de Joga and EVERYTHINGS

So, what will you DO? If you know,we are…

PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI (IT) UNTUK KEDAULATAN WILAYAH INDONESIA

Negara kita, Indonesia adalah negara yang terdiri dari banyak pulau. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), pada tahun 2002 berdasarkan hasil kajian citra satelit menyatakan bahwa jumlah pulau di Indonesia adalah sebanyak 18.306 buah. Data Departemen Dalam Negeri pada tahun 2004 menyatakan bahwa 7.870 pulau yang bernama, sedangkan 9.634 pulau tak bernama.Dari sekian banyaknya pulau-pulau di Indonesia, yang berpenghuni hanya sekitar 6.000 pulau. Di bawah ini disajikan pulau-pulau utama Indonesia.

Di sini saya tidak akan membahas kondisi semua pulau di Indonesia, namun yang akan menjadi fokus saya adalah keadaan pulau-pulau terluar Indonesia dalam kaitannya dengan ketahanan wilayah negara Indonesia. Masih lekat dalam ingatan kita bagaimana Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan akhirnya lepas dari Indonesia dan Mahkamah Internasional memutuskan menjadi milik Malaysia. Hilangnya pulau itu tentu melukai moral, ekonomi dan hukum negara kita. Sebab pulau-pulau terluar tidak hanya terkandung sumber daya alam yang melimpah saja, lebih dari itu, pulau tersebut juga menjadi kedaulatan wilayah NKRI.

Ketika dua pulau tersebut sudah di tangan Malaysia, ternyata negara yang baru-baru ini terjadi konflik agama di dalamnya, juga tidak berhenti melancarkan usaha untuk ‘mencuri’ wilayah negara kita. Beberapa waktu yang lalu kapal perang Malaysia berbuat ulah dengan memasuki wilayah perairan Indonesia. Mungkin masih banyak yang belum mengetahui bahwa ulah atau provokasi yang dilancarkan Malaysia bermula karena persengkataan yang terjadi untuk memperebutkan blok Ambalat. Pemerintah Malaysia merasa bahwa mereka berhak atas wilayah eksplorasi minyak di daerah tersebut setelah mereka memenangi sengketa kepemiliki P. Sipadan dan Ligitan pada tahun 2002 yang lalu. Dengan kata lain, secara tidak langsung, provokasi ini merujuk pada perebutan wilayah kedaulatan zona ekonomi eksklusif.

Contoh lain adalah pulau-pulau terluar yang terdapat di Nias. Menurut laporan warga sekitar pulau-pulau tersebut banyak ‘dikuasai’ oleh orang asing. Banyak orang asing yang memanfaatkan potensi wisata dan sumber daya alam di wilayah tersebut dengan seenaknya sendiri. Sehingga mereka dengan mudah bisa membeli pulau, membangun tempat wisata, villa, resor dan semacamnya (sumber: kompas.com)


Kasus di atas hanyalah beberapa permasalahan kecil dari sekian banyak kasus yang ada di wilayah atau pulau-pulau terluar Indonesia. Apabila kita perhatikan dengan cermat yang menjadi sumber masalah dari kasus-kasus yang telah terjadi adalah kurangnya pengawasan secara tegas dari pemerintah Indonesia. Kurangnya pengawasan ini juga disebabkan oleh beberapa hal, yaitu keterbatasan personel TNI AL yang menjaga wilayah pulau terluar Indonesia dan kurangnya peralatan untuk menunjang pengawasan tersebut.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2005, Indonesia memiliki 92 pulau terluar.  Karena jumlah personel yang terbatas, maka tidak semua dari pula terluar itu dijaga oleh TNI AL. Selain itu penjagaan yang dilakukan oleh TNI khususnya di wilayah perairan Indonesia sangatlah terbatas. Kapal perang yang dimiliki Indonesia yang digunakan untuk patroli kemanan wilayah teritorial sangat sedikit jika dibandingkan oleh luasnya perairan Indonesia.

Jika negara kita hanya mengandalkan kemampuan secara manual maka seluruh wilayah teritorial Indonesia tidak sepenuhnya terjaga. Yang saya dimaksud dengan manual di sini adalah pengawasan  yang masih sangat bergantung pada sumber daya manusia, bukan menggunakan suatu sistem peralatan yang canggih yang bisa membantu memudahkan pengawasan wilayah Indonesia.

Sebagai contoh kita masih belum mempunyai system alert warning yang berguna untuk mengetahui siapa saja yang memasuki wilayah teritorial Indonesia. Sehingga ketika ada kapal asing yang masuk dan tanpa sepengatahuan kita maka kapal tersebut bisa dengan bebas memasuki wilayah kita.

Oleh sebab itu dibutuhkan inovasi teknologi untuk bisa melakukan pengawasan yang optimal. Misalnya dengan memanfaatkan penginderaan jauh melului satelit. Pada saat ini di beberapa negara maju tetah berhasil menerbangkan beberapa jenis satelit untuk pemotretan bumi, antara lain Landsat milik USA, SPOT milik Perancis,ERS (Earth Resources Satellite) oleh konsorsium beberapa negara Eropa (ESA), Radarsat (Kanada), JERS (Jepang) dan IRS (India). Indonesia sebagai negara berkembang belum memiliki Satelit Inderaja, tetapi memiliki Stasiun Bumi penerima (receiver) Citra lnderaja, yaitu Stasiun Bumi Parepare di Sulawesi Barat. Sehubungan dengan itu, Indonesia menjalin kerjasama dengan negara-negara pemilik satelit tersebut untuk turut memanfaatkannya (Mulyadi K. 1998).

Paling tidak dengan adanya satelit penerima Indonesia seharusnya lebih bisa memanfaatkan dalam bidang pertahanan. Yaitu dengan monitoring secara real time berdasarkan data yang diperoleh satelit. Nantinya data diolah dengan menggunakan sistem GIS dan GPS sehingga pengawasan bisa menyeluruh ke wilayah Indonesia dan dilakukan setiap saat secara terus-menerus. Ketika ada sesuatu yang masuk ke dalam wilayah perairan RI maka akan ada alert dan selanjutnya TNI akan lebih mudah untuk bisa menindaklanjuti.

Solusi yang saya uraiakan di atas hanya salah satu contoh yang bisa dilakukan pemerintah. Namun yang saya garis bawahi disini adalah perunya usaha pemerintah untuk melakukan penelitian lebih lanjut dalam rangka menciptakan inovasi teknologi pertahnan dengan menggunakan teknologi informasi (IT) tidak hanya manual. Sebab Indonesia mempunyai wilayah yang sangat luas sehingga diperlukan suatu alat yang canggih yang memudahkan pengawasan terhadap kedaulatan negara kita sebagai negara kepualauan.

21 02 10 - Posted by | Opini | , , , , , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: