de Joga and EVERYTHINGS

So, what will you DO? If you know,we are…

MENANG DI HARI KEMENANGAN

Perjalanan menahan hawa nafsu selama satu bulan telah dilewati. Bulan yang penuh keistimewaan berganti dengan bulan syawal. Dan hari kemenangan telah tiba, yaitu Idul Fitri. Namun timbullah suatu pertanyaan apakah kita “menang” di hari kemenangan?

Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan tersebut selain diri kita masing-masing dan Allah Yang Maha Mengetahui. Banyak diantara kita yang yang puasa di bulan ramadhan yang mendapatkan tidak lebih dari lapar dan dahaga saja, demikian Rasulullah SAW menjelaskan pada kita. Hal itu bisa terjadi karena nilai ibadah puasa kita terkurangi oleh hal-hal yang tidak disukai Allah SWT. Mulai dari pandangan mata yang masih berkeliaran, mulut kebablasan sehingga menimbulkan fitnah, serta bohong yang juga masih tidak terhindarkan. Padahal makna puasa bukanlah sekedar menahan makan dan minum saja, tapi lebih dari itu bagaimana kita belajar menahan hawa nafsu untuk menuju fitrah manusia.

Kita patut bersyukur apabila bulan yang penuh barokah tidak kita lewatkan dengan sia-sia. Karena itu merupakan kesempatan bagi manusia untuk meng-upgrade kualitas iman dan takwa. Dan ajang pembuktian iman dan takwa kita adalah setelah bulan Ramadhan. Apakah kita mengalami peningkatan (amin…) atau justru penurunan (naudzubillah).

Idul Fitri merupakan momen yang sarat makna tentu hanya bagi yang bisa memaknai -mendapatkan kemenangan-. Idul Fitri juga merupakan momen untuk berbahagia karena merayakan kemenangan, dalam hal ini adalah hubungan kita dengan Allah (hablumminallah). Untuk mencapai kesempurnaan tidak lengkap jika kita meninggalkan hubungan kita dengan sesama manusia (hablumminannas). Oleh sebab itu Idul Fitri juga sebagai momen untuk saling memaafkan yang sering kita sebut dengan “halal bi halal”. Bahkan ini telah menjadi suatu tradisi yang selalu dilakukan oleh umat muslim di Indonesia tiap tahunnya.

Fenomena tersebut merupakan sesuatu yang khas, karena itu hanya terjadi di Indonesi. KH. Quraisy Syhab mengatakan bahwa di negara Arab dan Timur Tengah pun tidak mengenal adanya halal bi halal. Namun kita patut bersyukur karena tradisi tersebut merupakan tradisi yang ke arah positif. Di mana kita bisa saling silaturahmi dan bermaaf-maafan di hari yang suci.

Namun hakikat Idul Fitri bukanlah sekedar bagaimana kita merayakan kemenangan. Namun bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari perjalanan bulan Ramadhan agar bisa tetap kita lakukan di bulan-bulan lainnya. Bukan suatu antiklimaks yang kita inginkan tapi justru peningkatan. Semoga dengan saya menulis ini, kembali mengingatkan dan menguhkan apa yang harus dilakukan. Semoga juga bisa membawa manfaat bagi pembaca.

07 10 09 - Posted by | Opini | , , , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: